Explore Lombok

Hallo di hari selasa tanggal 5 awal tahun genap 2016 .

Sejenak saja .
Hanya cerita .
Memori flash back akhir tahun kemarin .
Di lintas wilayah beda waktu tapi masih sama di Indonesia tercinta tanah air beta .

Tanggal 23 sore perjalanan ke arah bandara juanda surabaya, berbekal keril dan gerombolan teman kantorku .
Arah yang kutuju sesuai tiket pesawatku adalah Sub-Lop .
Kali pertama menjejak di badan pesawat .
Bagai ada kupu-kupu di perut saat landing dan wussh .

Praya Airport

Holla Lombok !
Entah jam berapa , mungkin sekitar pukul 9 WITA. Perjalanan yang cepat, suhu yang bersahabat. Sudah dikontak oleh temanku seorang driver yang membawa mobil avanza untuk kami ber-9.
Tau bagai mana rasanya.
Seperti pepes oversize dalam satu bungkus daun pisang. Penuh !

Kuliner pertama yang kami coba.
Ah lidahku tak mampu beradaptasi dengan panganan khas Lombok.
Mungkin sesuai namanya, cenderung pedas layaknya lombok. Nasi Puyung namanya. Dengan harga 12ribu rupiah dan porsi yang imut-imut sebagai pengganjal perut. Baiklah, tak ada diet. Kita lelapkan mata untuk tenaga esok. Numpang lelap dirumah saudara kawan.

Nasi Puyung

Tanggal 24 di tanah Lombok.
Sarapan pagi. Dengan sate bulayak, kue bantal, dan makanan pedas lagi dibalut kertas berbentuk kerucut entah apa namanya.
Sedikit review :
Sate bulayak, oke sate menurut lidahku dimana saja sama dan bulayak yang menurut lidahku adalah lontong
Kue bantal, seorang karib di jawa mengatakan, jangan coba kue ini, aplikasi nagasari tapi failed, dan memang lidahku mengiyakan, semacam ketan dengan pisang di dalamnya
Nasi apalah itu namanya, dann pedas, enak, tapi lidahku tak bersahabat
Ah maafkeun indra pengecap ini
Untung saja, ketiganya geratis.

Kue Bantal


Spot pertama yang kami tuju adalah Pantai Mawun.
Tak ada halangan.
Hanya perut mulas efek pedas, dengan dua kali ke kamar mandi.
Bagaimana pantainya ?
Awesome!


Hmm , abaikan penampakan saya

Spot selanjutnya setelah Pantai Mawun adalah Kuta Lombok.
Tak ada halangan. Ya, hanya sedikit masuk angin dan mulas. Dan total sudah 4 kali kubuang isi perut ini. Tapi bukan penghalang untuk tetap selfie disana-sini.
Bagaimana pantainya ?
Too much people beda dengan pantai sebelumnya.
Akan ada banyak penjual dan adik-adik kecil jualan gelang 10ribu dapat 3 atau kalau pintar menawar bisa dapat 5ribu untuk 3 gelang.

Selang kita ke arah Tanjung Aan.
Dan kruyuk~ sudah jam makan siang. Syukurlah, makanan yang bisa diterima lidahku. Mie instan. LOL.
Sebenarnya destinasi kita adalah Tanjung Meresse, namun dengan berbagai pertimbangan, kita mengarah kesini.
Banyak spot keren untuk selfie *uhuk
Jika pengamatanku tak salah, ada dua garis pantai ditengahnya ada bukit yang instagramable sekali.

Sedikit mendung


Lanjut kita ke arah Rumah Adat Sade.
Sewa guide disana ga ada patokan sih, seikhlasnya saja.
Budaya memang menarik.
Jadi, di Desa Sade yang hanya ada kurang lebih 100 KK ini ada tradisi menculik (tapi sebenarnya most of orang Lombok juga), menculik ini dilakukan para lelaki kepada perempuan yang ingin dinikahinya, kurang lebih selama 3 hari, lalu setelah menculik, si lelaki akan mengutus orang untuk menyampaikan lamaran ke ortu cewek, dan barulah mereka bisa menikah, di Desa Sade ada yang namanya rumah honeymoon , setelah menikah mereka akan melewatkan malam pertama mereka dirumah tersebut dan merencanakan masa depan mereka. Pak guide bercerita bahwa disana umumnya adalah menikah dahulu baru berencana mengenai masa depannya 😗😗

Setiap rumah yang terlewati cenderung berjualan didepannya. Yang terkenal tentu saja kainnya. Tak heran harganya mahal. Prosesnya panjang. Dari kapas yang dipintal sendiri. Hingga jadi kain yang eksotis sekali.


Driver mengajak kita mengunjungi Toko Lestari. Mencari oleh-oleh khas Lombok. Yang kutemui khas disana adalah manisan rumput lautnya. Rasanya? Enak! Seperti jelly. Sebungkus kecil harganya sekitar 18ribu. Kalau beli di Sasaku harganya 17ribu.

Driver mengarahkan untuk hunting kembali.
Yak oleh-oleh lagi.
Ke lombok eksotis dan tadaa tutup bung.
Yasudah wisata mutiara saja.
Tawar menawar untuk satu gelang atau cincin kisaran 10-20 ribu. Tapi itu adalah mutiara air tawar. Sedang yang air laut? Bapak penjual mengatakan "harganya hitungan dollar mbak", alias mehong cint.


Lanjutlah setelah itu istirahat untuk hari ini.
Dengan makan malam Ayam Taliwang yang pedas dan untungnya gratis di daerah Rembiga.
Tapi kali ini diputuskan untuk mencari losmen.
Ternyata cukup bersahabat, 85ribu per malam, fasilitas yang cukup untuk istirahat.
Terletak di Jalan Jeruk Manis entah itu di Lombok sebelah mana.

Tanggal 25 kita lanjutkan ke arah Pantai Pink yang sayangnya tidak begitu pink sesuai ekspektasi. Tapi tak apa, yang penting selfie. LOL.


Trip berlanjut ke jalur yang sama dekat jalur Pantai Pink, Tanjung Ringgit.
Kata driver muda spot ini adalah spot ujung jalan, yang artinya sudah tak ada lagi jalan diujung sana. Yap, ujung tebing ke arah laut, dengan ketinggian yang awesome!

Mendung


Yang sayang adalah cuaca yang kurang mendukung, sedikit mendung.



Setelah itu waktunya kuliner.
Target kita adalah bebalung.
Yap, ternyata bebalung adalah semacam balungan dengan kuah mirip kuah hmm soto ? Bakso ? Entahlah , kata driver kita bebalung yang kami beli kurang recommended tidak seperti bebalung di wilayah mereka , Lombok Timur. Ah entahlah~~

Karena kami mayoritas perempuan, tentu tak jauh dari kata shopping.
Belanja belanji lanjut kembali.
Cuss Sasaku.
Recommended lah.
Dengan kisaran harga mulai 35ribu untuk sandal jepit, mulai 50ribu untuk sarung, dan mulai 75ribu untuk kaus.

I choose this!


Lelah sudah merayap raga ini.
Istirahat lelap kita siap untuk hari esok.

Tanggal 26 waktunya snorkling! Yeay!
9 orang menuju ke arah Gili Trawangan.
Melewati Pusuk yang banyak monyetnya.
Dan berhenti di parkiran Bangsal untuk naik cidomo ke arah dermaga.
Cidomonya kena harga 5ribu perorang.
Lanjut menaiki kapal dengan harga 20ribu perorang dengan waktu tempuh 45menit.

Welcome at Gili Trawangan !
Sayang belum sempat berselfie ria di tulisan Gili Trawangannya *hiks
Kita sudah diburu waktu untuk segera naik kapal.
Akhirnya barang kita titipkan di Intan Inn dibantu oleh mas Tony dan guide kita Mas Udeng.
Skip skip skip.
Pantat sudah duduk manis di kapal dengan tujuan keliling Gili Trawangan , Gili Meno dan Gili Air.
Slulup slulup.
Sayangnya menurutku sih ombak cukup kenceng.
Jadi kurang greget.
Untuk tarif snorkle ini 100ribu perorang.

Lepas snorkle dengan posisi masih basah kita sempatkan cek in di penginapan yang sudah kubooking lewat e.booking, E'wahana, letaknya di Jalan Ikan Tongkol.
Kita sudah menyewa sepeda dengan harga 40ribu perorang di Intan Inn. Harga ini sudah didiskon oleh Mas Udeng.
Tanpa ganti baju terus menggenjot ke arah Ke arah Ombak Sunset.
Ke arah ayunan yang heitz ituu.
Cekrek cekrek.
Move move.
Nemu hamock.
Selfie cekrek cekrek .
Sampai akhirnya stay di kursi kayu depan Sunset Bar.
How romantic !
Sayang baper, kaga ada yang bisa digenggam tanggannya.


Untuk makan malam kita mengarah ke pasar makanan disana.
Harganya variatif.
Untuk satu tusuk kecil aneka seafood harganya 10ribu isinya 3pcs, 20ribu untuk isi 4pcs dengan ukuran 2kali lipat lebih besar.
Dan 1 porsi makanan sekitar 25ribu. Kalau nasi goreng sama seperti harga di Jawa 15ribu.
Makan selesai, genjot lagi.
Semakin banyak genjot, 1 pulau kukitari.

Rasanya memang kurang.
Menikmati karunia illahi ga bisa dihitung hari.
Esok sudah kembali.
Mengikuti rutinitas pagi.
Pesawat Lop-Sub sudah menanti.
Bye Lombok suatu hari kita kan bersua lagi 🙌🙌

Komentar